Skip navigation

Siapa yang tak kenal Cak Nur (panggilan Nurcholish Madjid). Kiprahnya sudah tidak diragukan lagi, baik di kancah nasional maupun internasional. Dia dianggap sebagai cendekiawan sekaligus guru bangsa yang banyak punya jasa. Di balik kiprahnya, ternyata ia memiliki teman hidup yang rela menjadi pendamping dalam menghadapi suka maupun duka. Pengabdian Omi Nurcholish Madjid, sang istri, tak terhitung nilainya. Ia benar-benar mengabdikan hidupnya untuk menopang perjuangan sang suami hingga hembusan nafas terakhir.

Omi lahir dari dalam keluarga bersahaja. Ayahnya, Mohamad Kasim sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha swasta yang bergerak di beberapa bidang usaha. Sedang ibunya, Siti Sutirah sebagai ibu biasa yang menangani urusan rumah tangga. Perempuan kelahiran Madiun, 25 Januari 1949 ini dibesarkan dalam suasana lingkungan relegius. Pagi berangkat ke sekolah formal, sore hari mesti belajar berbagai ilmu pengetahuan agama di madrasah. Maka wajar bila sekarang ini ia masih sangat hafal dengan puji-pujian atau shalawat yang sering dikumandangkan di pesantren-pesantren. Bahkan ketika masuk ke sekolah SMP, orang tuanya secara khusus mendatangkan guru agama ke rumah.

 

Masyarakat mengenal orang tua Omi bukan saja sebagai dermawan karena menjadi donatur berbagai kegiatan sosial keagamaan, termasuk rutin menyumbang ke Pesantren Gontor. Lebih dari itu rumah mereka rela dijadikan sebagai tempat membaur oleh para aktivis baik dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau Pelajar Islam Indonesia (PII), bahkan tak jarang dijadikan sebagai ajang berkumpul tokoh-tokoh partai. “Kebetulan ayah membangun beberapa paviliun yang sengaja disediakan untuk mereka,” tandasnya. Pemandangan yang setiap hari tampak itu pada akhirnya memunculkan secercah harapan. “Kelak aku ingin punya suami yang berjiwa pejuang,” harapnya kala itu dalam hati. Ketika terjadi pergolakan G 30 S PKI rumahnya tambah ramai. Read More »

Sejak tahun 1985 Abah MK merintis perguruan yang diberi nama Mahesa Kurung dengan lokasi di desa Cijeruk Bogor. Cikal bakalnya bermula dari kegiatan keluarga dan teman-teman dekat. Nama Mahesa Kurung sendiri berasal dari bahasa Karan yang berarti terkuat atau terbesar (superior). Semula pengikutnya hanya puluhan orang, lalu berkembang menjadi ratusan, ribuan, hingga kini mencapai jutaan orang. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi meluas hingga ke manca negara seperti Malaysia, Singapura, Australia, Afrika.

Mahesa Kurung adalah sebuah perguruan bela diri yang memadukan antara kekuatan fisik (zahir) dan kemampuan batin (spiritual) kiblat ajarannya tetap pada keyakinan Ahlussunnah Wal Jamaah dengan madzhab fiqihnya Imam Syafi’i.. Abah MK meramu beberapa jurus silat seperti Pencak Silat, Taekwondo, Yudo, Kungfu menjadi satu aliran yang disebut sebagai Dzulfiqqor, sebuah gaya jurus tangan kosong. Jurus itu kemudian dikombinasikan dengan daya-daya ilahiyah dengan merujuk ayat-ayat Al-Qur’an yang mesti dibaca setelah shalat. “Hal itu dilakukan sehingga mereka juga terikat dengan shalat,” tandas ayah dari tiga anak ini. Selain itu ada ritual berendam di air, semedi dan mandi kembang. Untuk menguasai dasar-dasar ilmu tersebut dibutuhkan waktu selama enam bulan. Jika ingin naik peringkat ke tingkat guru, dapat memakan waktu satu hingga tiga tahun. Setelah itu barulah bisa merekrut murid sendiri. “Semua proses itu tidak dipungut biaya,” tambah pemilik PT Attros Global Enterprise yang bergerak di bidang kontarktor, suplayer, penyewaan truk ini. Read More »

Pebisnis Ayam Peraih Young Entrepreneur of The Year 2006 dari Ernst & Young

 

Asep Sulaiman Subanda lahir dari kalangan keluarga yang cukup mampu. Bahkan untuk ukuran daerah Cidahu terbilang kaya. Keluarga Asep juga dikenal sebagai keluarga yang relegius. Setelah lulus dari SD Cidahu, Asep dikirim oleh orang tuanya ke pesantren Gontor di Ponorogo Jawa Timur yang sangat terkenal akan disiplinnya. Di sana, putra asli Subang ini banyak ditempa ilmu pengetahuan agama. Ia juga sedikit belajar ilmu bisnis lewat Pusat Latihan Management dan Pemberdayaan Masyarakat (PLMPM).

Tahun 1996, setelah menyelesaikan masa pendidikannya di pesantren, Asep melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Subang mengambil jurusan Administrasi Negara sambil membantu ayahnya berternak ayam pedaging jenis broiler. Perguruan tinggi itu kini berubah nama menjadi Universitas Subang (USU). Sayang, di kampus itu ia hanya bisa bertahan sampai semester tiga. Asep lebih memilih droup out (DO) karena sudah terlanjur asyik dengan bisnis ayam bersama orang tuanya. “Kuliah di sana tak ada tantangan dan belajarnya nggak optimal,” jelas Bapak beranak tiga ini. Tahun 1998, badai krisis ekonomi tengah berkecamuk hebat. Tapi pada saat itulah Asep mulai mandiri berbisnis ternak plasma ayam pedaging mengikuti langkah sang ayah. Ayam yang ia pelihara berjumlah 10.000 ekor.

Hanya berselang waktu satu setengah bulan ayam-ayam itu telah siap dijual. Hasilnya, Asep menangguk untung Rp 10 juta. Sebagian dari keuntungannya itu digunakan untuk membeli mobil Jip tahun 71-an dan mengawini gadis tetangga kampung sebelah, Vina Nuryanti. Peruntungan itu membuat darah muda Asep bergejolak dan bernafsu untuk menambah jumlah produksi ternaknya. Tak tanggung-tanggung, jumlah ternaknya mencapai 60.000 ekor. Hanya saja kali ini bukannya untung tapi malah buntung. Asep menderita kerugian hingga Rp 80 juta. Read More »

Porter yang Jadi Manager

Pria kelahiran Jakarta, 28 Februari 1970 ini terlahir dari pasangan Papua-Padang. Ayahnya bernama Zacharias Kaisiepo kelahiran Biak. Sebuah daerah di pesisir pantai Papua. Sedang ibunya, Maryana Tadjuddin dilahirkan di Talang Babungo, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sejak kecil sulung dari enam bersaudara ini bertubuh subur.

Keluarga pria yang akrab dipanggil Frend ini sebenarnya bisa dibilang cukup berada. Ayahnya tercatat sebagai pejabat di lingkungan Petamina. Namun kesibukan ayahnya akhirnya membuat Frend lebih dekat dengan sang ibu. Hal itu yang membawa lulusan SD At-Taqwa Jakarta ini ingin hidup mandiri sejak SD. Padahal pada saat itu, umumnya seorang anak tengah bermanja ria denga orang tua.

Frend tidak malu-malu menjadi pesuruh di sebuah rumah yang disewakan untuk anak-anak kos yang tak jauh dari rumahnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pelan-pelan ia bisa mengumpulkan uang. Tidak hanya itu, untuk membantu meringankan beban orang tua, diam-diam Fredrik menjadi loper koran di pagi hari sampai menjelang berangkat ke sekolah. Penghasilan dari loper koran dan jadi pesuruh di rumah kos, ia tabung untuk membeli sepeda motor. Motor itu pun sesekali difungsikan untuk mengojek.

“Lumayan untuk tambah-tambah uang jajan dan beli buku,” tukas mantan anggota MUI ini mengenang. Berjualan es mambo, dan lontong pun pernah ia lakoni. Pekerjaan yang dilakukan mantan pengurus KNPI Kabupaten Mimika, Papua ini tak diketahui oleh orang tua. Karena semata-mata untuk membantu keluarga. Lambat laun, aktivitasnya tercium oleh ibunya. Mandapati semangat kemandirian yang dijalani putra bungsunya, ibunya merasa bangga sekaligus terharu. Tak disangka, Fredrik sudah bisa sejauh itu. “Ibu hanya berpesan. Jangan sampai saya melupakan sekolah gara-gara pekerjaan yang saya lakukan,” tandas pria yang pernah bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Agam, Bukittingggi ini.

           Hidup mandiri dari penghasilan sendiri sejak usia dini adalah bagian dari pencarian jati diri. Mantan wartawan tidak tetap di Harian Singgalang, Sumatera Barat ini saat SMP terkenal sebagai anak motor. Jiwa Fredrik saat itu memang masih labil. Terombang-ambing oleh pergaulan anak ABG yang sedang menikmati masa muda. Hampir tiada hari tanpa kebut-kebutan. Senmua dijalani demi menggapai kesenangan semata.

Suatu hari, Fredrik keluar rumah dengan motor kesayangannya. Tak ada firasat apa pun menyelinap dalam perasaan atau pun tanda-tanda akan ada hal buruk yang akan terjadi. Ketika pulang setelah mengikuti Team Racing Development dengan motor kesayanggannya, saat berada di perempatan jalan antara Ancol dan Dermaga Tanjung Priok, tanpa diduga tiba-tiba dari arah kanan, sebuah truk besar meluncur deras ke arah mantan Ketua Mimika Crisis Center (MCC) ini. Sekejap kemudian ia sadar bahwa bahaya tengah mengancam jiwa dan motor kesayangannya yang berjarak cuma beberapa jengkal dari posisi ia berada.

Hanya saja kesadaran itu sudah terlambat. Tak ada yang bisa ia lakukan selain sikap pasrah. Benar saja, sejurus kemudian truk besar yang sudah tak bisa dikendalikan menghantam tubuh Fredrik. Braaak !!!! Bunyi benturan benda keras memekakkan tetelinga. Motor yang dikendarai Fredrik terlempar beberapa meter dan seluruh bodinya ringsek. Sedangkan Fredrik sendiri terpental beberapa meter dari lokasi kejadian.

Read More »

Perjuangan Sarjana Dua Gelar

Salim, begitu ia kerap disapa, lahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya Ikhsanudin bekerja sebagai guru PNS. Jika sore, sang ayah meluangkan waktu untuk mengajar agama di madrasah sedangkan ketika libur, waktunya digunakan untuk bekerja mencangkul di sawah. Demikian juga dengan sang ibu, Hasanah. Praktis dalam diri Salim sama sekali tak mewarisi darah keturunan sebagai pebisnis. Masa SD hingga SMP Salim dihabiskan di Kebumen, Jawa Tengah. Dengan kondisi berkecukupan.

Selepas lulus dari SMP, kelahiran Kebumen 24 September 1965 ini tertantang merantau ke kota Gudeg, Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah menengah di kota yang dikenal dengan kaos Dagadu ini. Salim lalu melanjutkan kuliah di IAIN, Institut Agama Islam Negeri (sekarang berubah menjadi UIN, Universitas Islam Negeri) Sunan Kali Jaga mengambil fakultas Syari’ah. Budaya kota pelajar itu membuat Salim menjadi aktivis tulen. Berbagai organisasi ia masuki. Setiap harinya Salim tak pernah melewatkan acara-acara seperti seminar, diskusi, ataupun kajian ilmiah.

Kegandrungan Salim akan budaya ilmiah inilah yang membuatnya tak puas dengan mengambil kuliah di satu kampus. Lantas ia pun mendaftarkan diri kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan mengambil konsentrasi di jurusan Filsafat. Praktis saat itu baginya buku seperti menjadi pacar yang paling dekat. Di manapun ia berada, tak lepas yang namanya buku selalu ada disampingnya. Termasuk saat tidur. Ketika itu pria berkumis ini sangat beruntung, tak mempunyai kendala dengan biaya untuk hidup dan kuliah. Semua masih ditanggung oleh orang tua.

Sekalipun demikian, Salim tak manja. Ia mencari penghasilan lain untuk tambahan beli buku dan mengasah ketrampilan intelektualnya dengan jalan menulis di berbagai media di Yogyakarta. Tahun 1986, Salim menyabet gelar sebagai sarjana agama dari IAIN. Dan tahun berikutnya menyandang gelar sarjana Filsafat UGM. Betapa bangga keluarganya mendapati anaknya mendapat dua gelar sekaligus dari dua kampus ternama. Begitu juga Salim.

Perjuangannya rupanya tak sia-sia. Dua gelar itu membuatnya langsung direkrut sebagai asisten dosen di UGM mengajar beberapa mata kuliah. Selama beberapa tahun ia mengajar, ternyata ada sesuatu hal yang membuatnya gelisah. Ia merasa bosan dengan kegiatan sehari-hari yang hanya itu-itu saja. Selalu berkutat dengan kegiatan ilmiah. Di sisi lain, kampus tempat mengajar sudah menyiapkan SK untuknya untuk dikirim sebagai dosen mengajar di IKIP Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai ganjaran prestasi. Namun apa yang dilakukan Salim saat mendapat SK itu? Ia malah menolak tugas mulia itu dan mengembalikan SK sekaligus mundur sebagai pengajar. “Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih menantang dari sekadar mengajar,” tandasnya kala itu tanpa bisa merinci kehendak hatinya sendiri.

Tahun 1994 ia bertolak berangkat ke Jakarta tanpa tujuan pasti untuk mengundi nasib. Karena belum punya pekerjaan, lambat laun uang simpanannya semakin hari kian menipis. Kadang ia mencoba untuk melamar pekerjaan, tapi selalu tak mendapat jawaban. Sempat terpikir ingin minta kepada orang tua dikirimi uang, tapi hatinya berontak, tak sampai hati menahan malu karena sudah bergelar sarjana. Apalagi sudah menyandang gelar asisten dosen. “Masa dari lahir sampai sarjana ngemis ke orang tua,” akunya.

Read More »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.