Skip navigation

Perjuangan Sarjana Dua Gelar

Salim, begitu ia kerap disapa, lahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya Ikhsanudin bekerja sebagai guru PNS. Jika sore, sang ayah meluangkan waktu untuk mengajar agama di madrasah sedangkan ketika libur, waktunya digunakan untuk bekerja mencangkul di sawah. Demikian juga dengan sang ibu, Hasanah. Praktis dalam diri Salim sama sekali tak mewarisi darah keturunan sebagai pebisnis. Masa SD hingga SMP Salim dihabiskan di Kebumen, Jawa Tengah. Dengan kondisi berkecukupan.

Selepas lulus dari SMP, kelahiran Kebumen 24 September 1965 ini tertantang merantau ke kota Gudeg, Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah menengah di kota yang dikenal dengan kaos Dagadu ini. Salim lalu melanjutkan kuliah di IAIN, Institut Agama Islam Negeri (sekarang berubah menjadi UIN, Universitas Islam Negeri) Sunan Kali Jaga mengambil fakultas Syari’ah. Budaya kota pelajar itu membuat Salim menjadi aktivis tulen. Berbagai organisasi ia masuki. Setiap harinya Salim tak pernah melewatkan acara-acara seperti seminar, diskusi, ataupun kajian ilmiah.

Kegandrungan Salim akan budaya ilmiah inilah yang membuatnya tak puas dengan mengambil kuliah di satu kampus. Lantas ia pun mendaftarkan diri kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan mengambil konsentrasi di jurusan Filsafat. Praktis saat itu baginya buku seperti menjadi pacar yang paling dekat. Di manapun ia berada, tak lepas yang namanya buku selalu ada disampingnya. Termasuk saat tidur. Ketika itu pria berkumis ini sangat beruntung, tak mempunyai kendala dengan biaya untuk hidup dan kuliah. Semua masih ditanggung oleh orang tua.

Sekalipun demikian, Salim tak manja. Ia mencari penghasilan lain untuk tambahan beli buku dan mengasah ketrampilan intelektualnya dengan jalan menulis di berbagai media di Yogyakarta. Tahun 1986, Salim menyabet gelar sebagai sarjana agama dari IAIN. Dan tahun berikutnya menyandang gelar sarjana Filsafat UGM. Betapa bangga keluarganya mendapati anaknya mendapat dua gelar sekaligus dari dua kampus ternama. Begitu juga Salim.

Perjuangannya rupanya tak sia-sia. Dua gelar itu membuatnya langsung direkrut sebagai asisten dosen di UGM mengajar beberapa mata kuliah. Selama beberapa tahun ia mengajar, ternyata ada sesuatu hal yang membuatnya gelisah. Ia merasa bosan dengan kegiatan sehari-hari yang hanya itu-itu saja. Selalu berkutat dengan kegiatan ilmiah. Di sisi lain, kampus tempat mengajar sudah menyiapkan SK untuknya untuk dikirim sebagai dosen mengajar di IKIP Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai ganjaran prestasi. Namun apa yang dilakukan Salim saat mendapat SK itu? Ia malah menolak tugas mulia itu dan mengembalikan SK sekaligus mundur sebagai pengajar. “Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih menantang dari sekadar mengajar,” tandasnya kala itu tanpa bisa merinci kehendak hatinya sendiri.

Tahun 1994 ia bertolak berangkat ke Jakarta tanpa tujuan pasti untuk mengundi nasib. Karena belum punya pekerjaan, lambat laun uang simpanannya semakin hari kian menipis. Kadang ia mencoba untuk melamar pekerjaan, tapi selalu tak mendapat jawaban. Sempat terpikir ingin minta kepada orang tua dikirimi uang, tapi hatinya berontak, tak sampai hati menahan malu karena sudah bergelar sarjana. Apalagi sudah menyandang gelar asisten dosen. “Masa dari lahir sampai sarjana ngemis ke orang tua,” akunya.

Nekat Menikah. Terjepit dengan rasa malu minta uang kepada orang tua dan kebutuhan perut yang selalu meronta minta diisi makanan, membuat Salim harus segera melakukan sesuatu. Mencari penghasilan lewat jalur penulis di koran dan majalah yang dulu sempat dilakoni kala masih kuliah, juga tak menuai hasil. Akhirnya segala sesuatu yang ada di depan mata dilakukan. Termasuk menjual koran, jadi pedagang rokok, dan pedagang kue asongan pun dijalankannya. Salim benar-benar sedang terombang-ambing dalam lautan kehidupan yang serba tak menentu. Bagusnya, saat itu ia tak pernah mau menoleh ke masa lalu, mengingat-ingat saat masih jadi asisten dosen. Ludah yang telah terbuang tak mungkin dijilat kembali.

Di saat tengah mengalami kegetiran hidup, Salim berkenalan dengan seorang gadis bernama Siti Arofah yang tak mampu menyelesaikan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta karena ketidakmampuan menutupi biaya. Kesamaan nasib rupanya membuat kedua manusia berbeda jenis kelamin itu menemukan kecocokan. “Umur saya waktu itu sudah 30 tahun. Sudah waktunya untuk berkeluarga,” cetus Salim. Meski belum ada status pekerjaan, tak menghalangi niatnya untuk menikah.

Dengan bermodal muka tebal, tahun 1994 Salim akhirnya memberanikan diri menghadap orang tua si gadis untuk melamar. Sungguh di luar dugaan, keberanian itu menuai hasil. Ia diterima. Dengan persiapan seadanya dan modal hutang sana sini ia melangsungkan pernikahan di Jakarta di bulan Februari tahun itu. Karena belum mampu sewa kontrakan, setelah menikah ia bersama istri terpaksa tinggal di PIM (Pondok Indah Mertua, red). Salim pun memulai babak kehidupan baru bersama istrinya dalam kondisi yang serba memprihatinkan.

Tak jarang ia juga mendapat gunjingan tetangga. “Katanya punya dua gelar sarjana. Kok masih nganggur,” bisik para tetangga yang usil. Begitu pula mertuanya, kerap menanyakan tentang pekerjaan. Salim bukannya tak mendengar omongan orang-orang sekeliling. Akan tetapi segala upaya yang ditempuh belum juga mendapatkan hasil yang diharapkan. Sedang tuntutan hidup begitu nyata ada di depan mata. Paling tidak, tanggung jawab sebagai seorang suami yang harus memberikan nafkah kepada istri, bisa dipenuhinya.

Menjadi Sales Serabutan. Salim mengaku, beban yang paling berat yang dirasakannya saat itu adalah bertempur dengan rasa malu yang berkecamuk di dalam hatinya. “Ibaratnya pundak sebelah kanan memanggul gelar sarjana Agama IAIN. Di sebelah kiri memikul sarjana Filsafat UGM,” paparnya. Setelah melakukan perenungan, ia memang harus melakukan sesuatu. “Kalau saya kerja jadi orang kantoran, dapat uangnya bulan depan setelah gajian. Sedang istri hari ini, besok, dan seterusnya harus dapat makan,” tambahnya. Tekad itu yang membuatnya pelan-pelan bisa mengikis rasa malu yang menurutnya tak ada gunanya. Walau masih menyimpan rasa was-was, bagaimana nanti kalau ada teman yang tahu kondisinya ini.

Akhirnya ia memilih menjadi sales. Dengan prinsip yang sering disebut Botol, Berani Optimis dengan Modal Orang Lain, ia mencari pemilik barang apa saja yang bisa dijual dan dapat uang hari itu juga. Dari jualan sandal, pakaian, alat-alat kesehatan, makanan hingga jadi calo tanah dengan berbagi untung bersama pemilik barang. Daerah operasi jualan Salim pun berpindah-pindah. Kadang di terminal, sesekali menyambangi stasiun, di lain waktu menghampiri rumah pemukiman padat penduduk mendatangi kerumunan ibu-ibu. Sialnya, setelah ia kerja keras dan banting tulang, tetap saja menjadi bahan cibiran tetangga. “Tapi saya mungkin sudah kebal. Itu saya jadikan sebagai cambuk penyemangat,” tandasnya.

Suatu ketika, saat tengah menjajakan kue dagangannya di stasiun Senen ia bertemu dengan salah satu teman kuliahnya. Muncul perasaan malu, takut, bercampur gengsi. Semula ia hendak menghindari bertegur sapa dengan kawannya. Akan tetapi buru-buru ia menegakkan kepala mengusir kegalauan itu. “Apa kabar, saya sekarang jualan donat. Beli dong,” sapa Salim setengah tersipu. “Wah, hebat juga kamu. Mantan asisten dosen bisa jualan. Bungkus yah,” timpal temannya memesan karena merasa sudah terpojok dengan tawaran Salim.

Salim masa bodoh dengan sikap dan niat teman-teman yang ia temui saat kepergok sedang menjajakan barang dagangannya. “Saya tak peduli, mungkin mereka beli barang karena kasihan, pertemanan, tidak enak, sedih, atau terpaksa. Yang penting mereka mau beli barang dan barang saya laku,” kenangnya. Akhirnya muncul pikiran, lebih sering ketemu teman ternyata lebih baik. Barang jualan jadi laku.

Banyak Anak Banyak Rezeki. Dengan berjualan berbagai macam barang, Salim sedikit demi sedikit mulai bisa menabung. Ia mulai berani untuk mengontrak rumah sendiri pisah dari mertua. Di saat yang sama, tugas menjadi seorang ayah untuk meneruskan keturunan juga tak terlupakan. “Saya tipe orang yang kolot dalam hal agama walaupun pernah banyak mempelajari ilmu filsafat yag serba rasional. Keyakinan saya, banyak anak-banyak rezeki,” paparnya. Hal itu terbukti, baru beberapa bulan setelah menikah istrinya hamil. Dengan kehadiran anak membuat ia makin gigih untuk mencari nafkah. Apalagi saat anak keduanya Fuad Mustolahul Falah lahir. Motivasi mencari nafkah makin tinggi.

Kian hari Salim tenggelam dengan kegiatan berdagangnya. Beban sebagai penyandang dua gelar sarjana lama-lama tenggelam bersama pencarian kebutuhan tuntutan hidup yang semakin bertambah. Tanpa disadari jiwa wirausaha tumbuh dengan sendirinya. Insting untung rugi telah terasah akibat pengalaman yang didapat di lapangan.

Dari sekian banyak barang yang dijajakan, anehnya yang paling menarik hatinya adalah jajanan kue donat yang digeluti sejak tahun 1998. Mulailah terpikir untuk menciptakan bisnis sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. “Kalau terus-terusan ikut orang lain hidup tak berkembang, selalu diatur, harus berbagi keuntungan. Saya membidik pangsa pasar di level menengah ke bawah,” tandas ayah dari Tegar Muwafiqul Haggani, Fuad Mustolahul Falah, Sofia Rofiatul Maftuhah, Muhammad Rizqi, dan Muhammad Nurul Qalbi. Tapi di sisi lain ia berbenturan dengan anggapan bisnis yang mesti berbekal modal yang cukup. Salim tak surut langkah. Dengan modal seadanya ia merekrut tiga orang temannya yang kebetulan habis nganggur dan baru di PHK untuk membuat kue donat produksi sendiri. “Saya sendiri padahal tak bisa bikin. Cuma tahu teorinya,” jelasnya heran.

Dari mencari bahan baku, mengolah, memproduksi, mencari pangsa pasar dilakukan sendiri bersama tiga anak buahnya. “Bisnis saya bisa dibilang modal dengkul dan modal nekat,” tegasnya. Sejak saat itu Salim meninggalkan bisnis lain dan fokus mengurus kegiatan barunya itu. Memang tak gampang memperkenalkan dan menjual produk baru supaya orang lain bisa yakin. Belum lagi di lapangan harus berhadapan dengan para padagang produk yang sama yang jumlahnya tidak sedikit.

Seiring dengan perjalanan waktu, pelan tapi pasti donat buatan Salim bisa diterima di tengah menjamurnya bisnis yang sama. Permintaan semakin bertambah yang berakibat jumlah produksi meningkat. Jika dulu Salim yang menjadi sales, kini ia yang memimpin para pekerja itu menjajakan dagangan. Kebahagiaan Salim kian lengkap bersamaan dengan lahirnya anak keempat yang diberi nama Muhammad Rizki. Nama itu dipilih sebagai tanda syukur atas berkah rezeki yang makin hari makin bertambah. Tanggal lahir kelahiran Muhammad Rizki menjadi tonggak berkibarnya bendera PT Country Lestari. “Bertepatan dengan tanggal 10 bulan 10 tahun 2000 saya meresmikan perusahaan,” tukasnya bangga.

Perkembangan bisnis yang terus menuai keuntungan menjadikan Salim mulai mengepakkan sayap perusahaan tidak hanya di Jakarta. Tahun 2003 ia mendirikan kantor di beberapa wilayah antara lain di Bandung, Cirebon, Cianjur, Semarang, Surabaya, Malang, Makassar, Batam, Pekan Baru, dan Cilegon. Saat itu tercatat jumlah karyawan PT Country Lestari mencapai tak kurang dari tiga ratus orang. Jumlah produksi donatnya setiap hari bisa mencapai 100 ribu biji donat. Jika dulu Salim dicerca, dicibir, bahkan dikucilkan teman dan tetangga, saat itu keadaan menjadi berbalik seratus delapan puluh darajat. Tiba-tiba ia menjadi sosok yang dihargai dan dikagumi banyak orang. “Kalau dulu nggak bisa bayar pembantu, kemana-mana jalan kaki, sekarang sedikit-sedikit bisa tercukupi,” katanya merendah.

Bertahan dari Krisis Kenaikan BBM. Rajin, tekun, ulet, gigih, dan pengalaman di lapangan menjadi modal utama perjuangan Sekjen Asosiasi Pewaralaba Indonesia ini dalam menuai kesuksesan berbisnis mengibarkan produk donat di tengah ramainya produk-produk luar negeri yang setiap hari tambah membanjir dengan berbagai model barunya. Sampai pertengahan tahun 2006 kehidupan Salim menjadi sejahtera.

Hidup tak mengenal kata keabadian. Di tahun 2006 pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal itu memicu berbagai barang kebutuhan pokok ikut merangkak naik. Tak pelak, berbagai bahan dasar kebutuhan PT Country Lestari seperti tepung, gula, dan minyak, terkena imbasnya. Pada saat yang bersamaan, daya beli masyarakat menjadi anjlok. “Jangankan untuk beli donat, beli sembako saja mereka merasa kesusahan,” tukasnya kecewa. Belum lagi biaya-biaya dasar seperti transportasi untuk melakukan distribusi produk. Sejak itu jumlah pemasukan dan pengeluaran perusahaan mulai tidak imbang.

Keluhan para karyawan mulai muncul diberbagai cabang perusahaan. Mereka menuntut kenaikan gaji standar yang disesuaikan dengan kenaikan BBM. Jika tak dituruti akan berimbas kepada kinerja perusahaan secara keseluruhan. “Waktu itu saya bisa menilai mana karyawan yang punya loyalitas membesarkan perusahaan dan yang hanya sekadar mencari uang belaka,” katanya. Akhirnya beberapa puluh karyawan ‘dirumahkan’ demi efisiensi perusahaan. Untuk menutup kebutuhan produksi Salim harus menjual beberapa unit mobil yang dimiliki. Salah satu cabang di Jawa Timur dengan terpaksa harus ditutup karena selalu merugi.

Ia mengaku harus banyak bersyukur karena perusahaannya tidak sampai gulung tikar dan masih bertahan hingga kini. Walaupun tidak sejaya seperti dua tahun silam. Sebab dibandingkan dengan masa-masa meniti sukses, kondisi sekarang jauh lebih menguntungkan daripada dahulu yang serba susah. Kini perusahaan PT Country Lestari tengah melakukan fase pemulihan (recovery) berbenah menata ulang menutup celah-celah kekurangan supaya tetap bisa bersaing dan eksis. Rupanya, banyak anak-banyak rezeki yang diyakini Salim terbukti. Selain bisa membesarkan perusahaannya, ia juga bisa menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang lumayan bagus. Kelima anaknya bersekolah di Sekolah Islamic Centre Iqra Bekasi. Putra pertamanya-Tegar-sudah duduk di kelas VI SD, putra kedua-Fuad-kelas V, putri ketiga-Sofia-kelas IV, putra keempat-Rizky-dibangku TK dan putra bungsunya-Nurul-sudah bersekolah di playgroup di tempat yang sama dengan keempat kakaknya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: