Skip navigation

Porter yang Jadi Manager

Pria kelahiran Jakarta, 28 Februari 1970 ini terlahir dari pasangan Papua-Padang. Ayahnya bernama Zacharias Kaisiepo kelahiran Biak. Sebuah daerah di pesisir pantai Papua. Sedang ibunya, Maryana Tadjuddin dilahirkan di Talang Babungo, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sejak kecil sulung dari enam bersaudara ini bertubuh subur.

Keluarga pria yang akrab dipanggil Frend ini sebenarnya bisa dibilang cukup berada. Ayahnya tercatat sebagai pejabat di lingkungan Petamina. Namun kesibukan ayahnya akhirnya membuat Frend lebih dekat dengan sang ibu. Hal itu yang membawa lulusan SD At-Taqwa Jakarta ini ingin hidup mandiri sejak SD. Padahal pada saat itu, umumnya seorang anak tengah bermanja ria denga orang tua.

Frend tidak malu-malu menjadi pesuruh di sebuah rumah yang disewakan untuk anak-anak kos yang tak jauh dari rumahnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pelan-pelan ia bisa mengumpulkan uang. Tidak hanya itu, untuk membantu meringankan beban orang tua, diam-diam Fredrik menjadi loper koran di pagi hari sampai menjelang berangkat ke sekolah. Penghasilan dari loper koran dan jadi pesuruh di rumah kos, ia tabung untuk membeli sepeda motor. Motor itu pun sesekali difungsikan untuk mengojek.

“Lumayan untuk tambah-tambah uang jajan dan beli buku,” tukas mantan anggota MUI ini mengenang. Berjualan es mambo, dan lontong pun pernah ia lakoni. Pekerjaan yang dilakukan mantan pengurus KNPI Kabupaten Mimika, Papua ini tak diketahui oleh orang tua. Karena semata-mata untuk membantu keluarga. Lambat laun, aktivitasnya tercium oleh ibunya. Mandapati semangat kemandirian yang dijalani putra bungsunya, ibunya merasa bangga sekaligus terharu. Tak disangka, Fredrik sudah bisa sejauh itu. “Ibu hanya berpesan. Jangan sampai saya melupakan sekolah gara-gara pekerjaan yang saya lakukan,” tandas pria yang pernah bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Agam, Bukittingggi ini.

           Hidup mandiri dari penghasilan sendiri sejak usia dini adalah bagian dari pencarian jati diri. Mantan wartawan tidak tetap di Harian Singgalang, Sumatera Barat ini saat SMP terkenal sebagai anak motor. Jiwa Fredrik saat itu memang masih labil. Terombang-ambing oleh pergaulan anak ABG yang sedang menikmati masa muda. Hampir tiada hari tanpa kebut-kebutan. Senmua dijalani demi menggapai kesenangan semata.

Suatu hari, Fredrik keluar rumah dengan motor kesayangannya. Tak ada firasat apa pun menyelinap dalam perasaan atau pun tanda-tanda akan ada hal buruk yang akan terjadi. Ketika pulang setelah mengikuti Team Racing Development dengan motor kesayanggannya, saat berada di perempatan jalan antara Ancol dan Dermaga Tanjung Priok, tanpa diduga tiba-tiba dari arah kanan, sebuah truk besar meluncur deras ke arah mantan Ketua Mimika Crisis Center (MCC) ini. Sekejap kemudian ia sadar bahwa bahaya tengah mengancam jiwa dan motor kesayangannya yang berjarak cuma beberapa jengkal dari posisi ia berada.

Hanya saja kesadaran itu sudah terlambat. Tak ada yang bisa ia lakukan selain sikap pasrah. Benar saja, sejurus kemudian truk besar yang sudah tak bisa dikendalikan menghantam tubuh Fredrik. Braaak !!!! Bunyi benturan benda keras memekakkan tetelinga. Motor yang dikendarai Fredrik terlempar beberapa meter dan seluruh bodinya ringsek. Sedangkan Fredrik sendiri terpental beberapa meter dari lokasi kejadian.

        Anggota Kushingrum Karatedo Indonesia ini mengaku sebelum tabrakkan terjadi dan kesadarannya menghilang, ia melihat sang ibu melambaikan tangan dan mengulum senyum. Akibat kejadian itu, beberapa hari ia tak sadarkan diri. Fredrik mengalami luka yang sangat serius. Tulang paha sebelah kanan remuk. Sekujur tubuhnya berselimut rasa ngilu dan nyeri. “Menurut akal sehat, seharusnya nyawa saya melayang. Jika tidak ada campur tangan Tuhan,” ungkap mantan anggota Resimen Mahasiswa Universitas Tujuhbelas Agustus, Jakarta ini.

Tubuh Fredrik terbujur di ranjang rumah sakit. Selama dua bulan kakinya harus terangkat dibanduli batu dengan posisi lurus. Penyesalan menjadi tukang ngetrek pun sudah tak ada artinya. Nyali khas anak muda yang dulu menggebu-gebu yang berani menantang maut kini menjadi ciut. Apalagi saat mendapati berita bahwa salah satu bagian tubuhnya yang telah remuk harus diamputasi. Atau dengan kata lain, harus ada bagian tubuh yang mesti dilepas. Jika masih ingin tetap menghirup udara dunia. Kabar itu tentu sangat tak nyaman di tengah rasa sakit di sekujur tubuh.

Detik-detik hari persiapan operasi untuk melakukan pemotongan paha bagian kanan sudah dipersiapkan. Tinggal menunggu jadwal yang tepat bagi dokter yang akan melakukan operasi. Namun, tiba-tiba tersiar kabar amputasi yang akan dijalani Fredrik ditunda. Keputusan melakukan amputasi harus menunggu dokter yang baru selasai belajar di Jerman.

Ternyata dokter Sri Suwondo yang ditunggu-tunggu datang juga. Setelah diperiksa, luka Fredrik tak perlu harus melakukan amputasi, tetapi cukup dengan pemulihan lewat operasai kecil dan terapi tulang. Salah satu langkah yang dilakukan Sri Suwondo adalah meyelipkan sebatang besi (pen) ke dalam daging paha sebagai penyangga tulang yang patah.

Mendengar keputusan itu, Fredrik sangat berbahagia. Anggota tubuhnya tak ada yang diamputasi. Sekalipun ia mesti harus terbaring di rumah sakit untuk beberapa lama dan berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat. Setelah keluar dari rumah sakit, Fredrik baru menyadari bahwa kakinya baru saja dijadikan proyek percontohan Sri Suwondo. “Tapi saya tetap bersyukur karena kaki saya tidak diamputasi. Jika tak ada kecelakaan itu mungkin sampai hari ini saya masih suka kebut-kebutan,” tambah suami dari Rahmi Maiyah yang mantan model.

Kejadian yang hampir merenggut nyawa itu membuat Fredrik benar-benar kapok. Ia berhenti sama sekali dari kebiasaan kebut-kebutan di jalanan. Apalagi besi yang menyangga tulangnya harus terpasang untuk beberapa tahun. Baru setelah duduk di bangku SMA Muhamadiyah Jakarta, pen itu bisa dilepas dari anggota badan ayah Salsabila Frema Kasiepo dan Azka Frema Kasiepo ini. Hanya bekas jahitan sepanjang paha hingga kini tak bisa hilang.

Fredrik kecil dikenal sebagai sosok yang periang dan gampang bergaul dengan lingkungan. Namun namanya anak kecil, kadang ada saja kenakalan berlebihan yang kadang muncul. Pada usia tujuh tahun, ia pernah lari dari rumah ke Pulau Bangka menggunakan kapal laut Sederhana XI. Perbuatan itu dilakukan hanya karena tidak terima diomelin orang tua. Di daerah itu jangankan saudara, teman saja tidak punya. Tidak ada orang yang mau mengenalnya.

Untuk bertahan hidup, Fredrik makan apa pun yang ditemukan. Kadang harus minta-minta dan mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Waktu tidur pun tak terkontrol. Suatau hari ia menemukan selembar koran yang sudah kumal. Pelan-pelan matanya tertuju pada sebuah berita kehilangan bertulis, “Seorang anak lari dari rumah dan menghilang entah ke mana.” Setelah dicermati, identitas anak yang dicari ternyata tak lain adalah dirinya sendiri. Ia pun memutuskan untuk melapor kepada polisi dan memilih kembali ke rumah.

Sekembalinya dari pelarian tersebut ia terserang penyakit komplikasi malaria, lever, thypus dan jantung. Fredrik harus masuk rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Bahkan ujian SD dilakukan saat ia masih dalam keadaan sakit yang dilaksanakan di rumah sakit. Kejadian itu berulang saat ia harus menghadapi ujian akhir SMP. Ketika itu ia kembali menderita sakit komplikasi.

Dalam benak Fredrik terpateri angan-angan begitu kuat ingin mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Maka segala upaya dilakukna untuk dapat mewujudkan cita-citanya. Setelah lulus dari SMA Muhamadiyah, Jakarta sebetulnya Fredrik berharap dapat meneruskan kuliah kedokteran di salah satu perguruan tinggi swasta. Sayang cita-citanya tak terwujud karena tak lulus ujian. Di sisi lain, ia ingin hidup dari keringat sendiri. Fredrik kemudian melamar pekerjaan ke beberapa instansi sembari menjalani kerja serabutan. Namun keinginan untuk menempuh pendidikan tinggi terus menyiksa batinnya. Fredrik akhirnya memutuskan kuliah di Universitas Tujuh Belas Agustus di Tanjung Priok.

Tahun 1998, manajemen kantor pusat PT. Garuda Indonesia Airways di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta memanggilnya untuk bekerja. Namun pada saat yang sama, PT. Pertamina juga mengajaknya untuk bergabung untuk menjadi salah satu karyawannya. Menghadapi penggilan itu, Fredrik agak bingung. Yang mana yang akan diambil.

Akhirnya Fredrik memilih bekerja di PT Garuda sebagai karyawan kontrak dengan bayaran yang sangat minim sebagai porter, tukang bongkar muat barang yang dinaikkan dan diturukan pesawat. “Kamu diterima di sini sebagai porter. Kerja kamu berat lho. Angkat bagasi dan barang penumpang dari conveyer belt ke gerobak untuk disusun dalam bagasi pesawat. Selain itu, tak ada tunjangan transport dan baju seragam,” kata Fredrik menirukan kata-kata staf personalia kala itu.

“Apa pun yang dibebankan kepada saya, akan saya terima,” timpalnya. Awalnya, Fredrik kaget menerima tugas yang cukup berat itu. Karena rata-rata barang bawaan penumpang bisa melebihi 30 kg. Bahkan, ada yang mencapai ratusan kilogram. Tugasnya adalah memilah barang-barang bawaaan tersebut sesuai dengan tujuan.

Setelah diterima bekerja, mantan distributor buku ini segera memutar otak untuk bisa meneruskan kuliah sembari bekerja. Karena gaji yang diterima terlalu minim. “Mungkin Tuhan sedang menguji saya. Tapi ada saja jalan yang diberikan Tuhan,” serunya. Rupanya, Fredrik kerap mendapat tips dari para penumpang pesawat Garuda yang barang-barangnya ia bawakan. Malah tak jarang tips yang diterima melebihi gaji. Dari situlah Fredrik bisa membiayai segala kebutuhan kuliah.

Dalam menyiasati jam kerja, Fredrik memilih bertukar jam dengan teman seprofesi yang rata-rata sudah berkeluarga. Siang ia berurusan dengan mata kuliah di kampus. Baru menjelang malam, ia langsung berangkat ke Bandara. Sebab jam tiga pagi pekerjaan sudah menanti. Usaha keras itu juga dibarengi dengan doa secara rutin. “Ya Allah Yang Maha Mengawali berikanlah aku petunjuk. Kalau memang ini pekerjaanku, selanjutnya tunjukkan saya jalan. Namun apabila ini batu loncatan, berikanlah saya petunjuk Mu Ya Allah.” kalimat itu ia panjatkan setiap saat.

Kuliah dan bekerja, dua pekerjaan berat ini dilakukan sekaligus. Bahkan kuliah Fredrik bisa dibilang melebihi target. Pasalnya hanya dalam waktu tiga setengah tahun, gelar sarjana berhasil disabet. Tak lama kemudian pada tahun 1991, setelah melewati tes, lelaki humoris ini dikukuhkan sebagai pegawai tetap di PT Garuda Indonesia. Otomatis Fredrik tak bertugas sebagai porter lagi. Kali ini menjadi Reservation Staff.

Tanggal 8 Desember 2001, Fredrik diangkat menjadi staf sales dan sekaligus dipindahtugaskan ke Timika, Papua di bawah kordinator Kantor Garuda Cabang Papua. Gayanya yang humoris dan gampang bergaul membuat para petinggi Garuda mencatatnya sebagai karyawan yang cepat diperhitungkan.

Di luar dugaan, berselang kurang dari satu tahun, beretepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan RI tahun 2002, Fredrik diangkat menjadi General Manager PT. Garuda Indonesia Kantor Cabang Timika. “Ini semua semata-mata karena campur tangan Tuhan. Kalau tidak ada pertolongan dari-Nya, nggak mungkin jalannya jadi begini. Di tangan pria yang memiliki hobi mencipta lagu, menyanyi, mengarang puisi dan olah raga ini, Kantor PT Garuda Cabang Papua masuk dalam jajaran sepuluh besar sebagai cabang terbaik.

Prestasi itu pun kian mendapat respon positif petinggi PT Garuda Indonesia. Bulan Februari 2006, Fredrik kembali mendapat kepercayaan memegang kendali sebagai General Manager PT Garuda Kantor Cabang Mataram yang sedang gonjang-ganjing. Dengan wilayah jangkauan dua provinsi sekaligus, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tempat ini pun, Fredrik berhasil mengangkat pamor kantornya masuk jajaran sepuluh besar kantor cabang yang mampu melewati target yang dirancang perusahaan. Bagi Fredrik semua yang dicapainya adalah rezeki yang tak diduga sebelumnya. Sebab ia termasuk orang yang tak percaya jika ada orang yang berkata, kesempatan cuma datang sekali.

Fredrik justru sangat percaya kesempatan bisa datang berkali–kali. Dan, setiap perubahan waktu adalah kesempatan yang harus dimanfaatkan. Setiap kaki melangkah, adalah peluang yang harus dijalani.

Semua yang telah dicapai Fredrik tak membuatnya congkak. Karena sebelumnya, segala kepercayaan yang diemban selama ini belum pernah diduga. Ia hanya menjalani apa yang ada dengan sebaik mungkin. Kehidupannya berjalan apa adanya. Malahan sekarang menjadi porter dianggap sebagai kenangan indah.

Di meja mantan ketua PMR, SMA Muhammadiyah 19 Jakarta ini tergeletak sebuah minatur pesawat dan bajaj. Dua benda itu memberi gambaran tentang masa lalu dan masa yang tengah ia jalani. “Ini supaya saya tak menjadi orang sombong. Jika saya melihat bajaj, dulu saya naik kendaraan itu supaya bisa naik pesawat. Sebaliknya, sekarang saya bisa naik pesawat karena dulu saya selalu naik bajaj,” paparnya.

Beberapa waktu lalu, Fredrik dilamar oleh beberapa partai untuk menjadi Wakil Gubernur Papua. Namun para petinggi partai politik yang merayunya harus gigit jari. Pasalnya, Fredrik menolak dengan diplomatis tawaran yang menggiurkan itu. “Saya bilang kepada mereka, saya bisa hidup seperti sekarang ini, karena bekerja di PT Garuda Indonesia. Sekarang Garuda sedang menghadapi masalah. Masa saya pergi,” ungkapnya. Rupanya Fredrik bukan tipe orang yang gila jabatan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: