Skip navigation

Pebisnis Ayam Peraih Young Entrepreneur of The Year 2006 dari Ernst & Young

 

Asep Sulaiman Subanda lahir dari kalangan keluarga yang cukup mampu. Bahkan untuk ukuran daerah Cidahu terbilang kaya. Keluarga Asep juga dikenal sebagai keluarga yang relegius. Setelah lulus dari SD Cidahu, Asep dikirim oleh orang tuanya ke pesantren Gontor di Ponorogo Jawa Timur yang sangat terkenal akan disiplinnya. Di sana, putra asli Subang ini banyak ditempa ilmu pengetahuan agama. Ia juga sedikit belajar ilmu bisnis lewat Pusat Latihan Management dan Pemberdayaan Masyarakat (PLMPM).

Tahun 1996, setelah menyelesaikan masa pendidikannya di pesantren, Asep melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Subang mengambil jurusan Administrasi Negara sambil membantu ayahnya berternak ayam pedaging jenis broiler. Perguruan tinggi itu kini berubah nama menjadi Universitas Subang (USU). Sayang, di kampus itu ia hanya bisa bertahan sampai semester tiga. Asep lebih memilih droup out (DO) karena sudah terlanjur asyik dengan bisnis ayam bersama orang tuanya. “Kuliah di sana tak ada tantangan dan belajarnya nggak optimal,” jelas Bapak beranak tiga ini. Tahun 1998, badai krisis ekonomi tengah berkecamuk hebat. Tapi pada saat itulah Asep mulai mandiri berbisnis ternak plasma ayam pedaging mengikuti langkah sang ayah. Ayam yang ia pelihara berjumlah 10.000 ekor.

Hanya berselang waktu satu setengah bulan ayam-ayam itu telah siap dijual. Hasilnya, Asep menangguk untung Rp 10 juta. Sebagian dari keuntungannya itu digunakan untuk membeli mobil Jip tahun 71-an dan mengawini gadis tetangga kampung sebelah, Vina Nuryanti. Peruntungan itu membuat darah muda Asep bergejolak dan bernafsu untuk menambah jumlah produksi ternaknya. Tak tanggung-tanggung, jumlah ternaknya mencapai 60.000 ekor. Hanya saja kali ini bukannya untung tapi malah buntung. Asep menderita kerugian hingga Rp 80 juta.

Kerugian ini lebih dikarenakan adanya krisis moneter yang sedang melanda Indonesia saat itu dan meluluhlantakkan semua bidang perindustrian.More…Orang bilang anak muda suka tantangan. Begitu pula dengan pria ini. Diliputi rasa penasaran dan bayangan hutang yang melilit, Asep bukannya berhenti, tapi malah menambah jumlah produksi ternaknya. “Saya waktu itu berhitung. Jika ditambah lagi, selain bisa menutup utang, keuntungannya pun bisa banyak. Sekali dayung, dua- tiga pulau terlampaui,” kenangnya. Ternyata, apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Dayung Asep bukan hanya patah, tetapi lebih dari itu. Perahu yang ia tumpangi juga karam. Bisnis ayamnya ternyata jeblok alias merugi sebesar Rp 90 juta. Sehingga total hutang Asep waktu itu Rp 170 juta. Jumlah yang tidak sedikit bagi anak muda seumurnya.Setelah itu, bagi Asep, dunia seperti gelap gulita dan hendak runtuh. Rumah Asep setiap hari selalu ramai oleh debt colector (tukang tagih hutang). Malu disambangi orang yang tak diundang, Asep memilih kabur berusaha menghindar. “Rumah saya kebetulan dekat dengan masjid. Mereka menunggui saya sampai pada tidur di masjid,” katanya terkekeh mengingat masa lalu. Ayahnya, Shobur Tadjudin, belum tahu anaknya tengah dililit banyak hutang.Terus-terusan menghindari orang yang menagih hutang, membuat Asep capai sendiri. Akhirnya ia memutuskan pulang menghadap sang ayah dan menceritakan apa yang tengah dihadapinya. Pada awalnya ia mengira orang tuanya akan marah besar atau memaki-maki. Nyatanya tidak. Dengan tenang dan penuh wibawa, Shobur Tadjudin justru memberi dukungan. “Jangan kamu jual masa depanmu dengan uang segitu. Perjalanan hidupmu masih panjang. Hutang kamu yang berjumlah Rp 170 juta dan ditambah dengan kekayaan Bapak sekarang, tidak ada artinya dengan masa depan kamu,” jelas Asep menirukan nasehat ayahnya. Setelah itu, terjadi kesepakatan antara anak dan bapak. Shobur bukan melunasi hutang-hutang anaknya. Akan tetapi hanya siap untuk menjadi penjamin atas hutang-hutang Asep. “Kata-kata bapak membuat saya punya semangat lagi,” akunya bangga. Ia kembali menekuni bisnis ayamnya dari nol. Mobil jip kesayangannya dijual untuk tambahan modal. Kejadian itu memberi pelajaran sangat berharga. “Kesuksesan merupakan gabungan dari empat hal, keinginan, kemampuan, mental, dan kesempatan. Saya mungkin telah memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan. Tapi, mental, saya belum punya,” katanya. Karena kegelisahan hati yang tak kunjung reda menanggung hutang, tahun 2003 Asep memutuskan untuk berangkat haji. Di multazam, salah satu tempat di sekitar ka’bah yang dipercaya sebagian orang Islam bisa menjadi perantara terkabulnya do’a, Asep menumpahkan segala problem yang selama ini mendera pikiran.“Saya tumpahkan seluruh beban pikiran. Saya minta semua hutang terbayar, bisnis untung terus, rezeki banyak, diberi kekuatan badan, mental, pikiran dan masih banyak lagi,” ujarnya. Setelah pulang haji, seminggu, sebulan, dua bulan, setengah tahun hingga mendekati satu tahun, tidak ada perubahan apapun dalam bisnisnya. Dalam benaknya muncul pikiran, “Kok do’a-do’a saya tak ada yang terkabul. Tak ada efek apa-apa setelah pulang haji.”Sejuta tanda tanya muncul dalam diri Asep. Ia tak habis pikir, padahal katanya berdo’a dekat Ka’bah gampang terkabul. Akhirnya setelah meminta wejangan dari guru dan teman-temannya di
Pesantren Gontor, ia terhenyak. Asep buru-buru melakukan tobat memanjatkan istighfar. Ternyata selama ini ia salah. “Setelah saya ingat-ingat, ternyata bukan do’a yang dulu saya minta. Tapi mendikte Tuhan, terlalu banyak permintaan. Sepertinya saya ini makhluk yang paling tahu dan paling sengsara di muka bumi,” paparnya dengan penuh sesal.

Renungan itu lagi-lagi memberi pelajaran baginya. Caranya memandang konsep bisnis berubah. Dalam berbisnis ia kini tak begitu ngoyo mengejar keuntungan semata. Tapi lebih kepada berapa banyak orang yang merasakan manfaat bisnisnya, terutama lingkungan sekitar. “Jika selalu merasa kurang dengan harta. Kita akan menjadi budaknya terus-terusan,” tegasnya. Keyakinan itu punya andil yang besar dalam perjalanan bisnis Asep. Pelan-pelan usaha yang dirintis membuahkan hasil yang tak sedikit. “Dari hutang Rp 170 juta, bapak hanya mengeluarkan uang Rp 11 juta untuk melunasi hutang itu,” ungkapnya. Lebih jauh hal itu lantas memunculkan ide dan konsep baru. Ia menyebutnya bisnis dengan model kemitraan. Mengajak masyarakat berternak ayam menjadi plasmanya. Asep memberikan modal berupa bibit ayam, pakan, dan obat kepada mereka yang berminat.
Para plasma hanya diminta untuk menyediakan tempat, kandang ayam, dan tenaga kerja. Ketika ayam sudah besar, Asep membelinya. “Harganya ditentukan pada awal kontrak kerjasama,” terangnya.Di masa-masa awal, Asep menggandeng 20 orang plasma dengan total produksi 40.000 ekor. Asep juga masih memelihara ayam sendiri sebanyak 60.000 ekor. Agar tak gagal, Asep terjun langsung membina para plasmanya. Tahun 2002, produksi plasmanya naik menjadi 150.000 ekor per siklus dengan hanya memakan waktu satu setengah bulan. Lalu berkembang lagi menjadi 800.000 ekor. “Ternyata mengelola bisnis seperti menjaga perasaan wanita. Susah-susah gampang,” ujarnya. Kini kandang peternakan ayam Asep bisa memuat 450.000 ribu ayam di atas lahan seluas empat hektar. Dengan pola itu Asep pun semakin percaya diri untuk mengembangkan sayap bisnis. Pada 2003, Asep mengajukan pinjaman Rp 350 juta ke sebuah bank pemerintah, tetapi ditolak. Asep tak patah arang. Ia pun mencoba lagi ke bank pemerintah lainnya, yakni BNI. Di BNI, Asep dinilai sebagai debitor yang baik dan memiliki prospek usaha. Untuk itu, BNI mengucurkan kredit Rp 1 miliar. Tak hanya uang yang didapat, bank itu juga memberikan konsultasi manajemen. Tahun 2004, kapasitas produksinya mencapai 1,2 juta ekor per siklus, dengan jumlah plasma membengkak menjadi 600 orang. Pemuda desa yang berpikiran global ini terus mencari celah. Kini dia tengah merintis usaha kemitraan ayam pedaging di Brunei Darussalam. Negara tetangga ini juga menjadi sasaran ekspor pakan ternaknya. “Dalam satu hari saya bisa meraup untung Rp 600 juta,” jelasnya. Belakangan setelah merebak wabah flu burung, Asep mengakui jumlah produksinya sedikit diturunkan karena permintaan konsumen sedikit menurun. Tapi itu tak banyak berpengaruh. Di bawah bendera PT Santika Duta Nusantara kini Asep tak hanya menggeluti peternakan. Ia menambah ragam usaha mulai dari agrobisnis (peternakan dan pertanian), kontraktor, perdagangan, dan jasa. Lokasi usahanya tersebar dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Bahkan Asep juga telah mengepakkan sayap usahanya sampai Brunei Darussalam, plus usaha waralaba ayam goreng siap saji. Baru-baru ini ia mendapat proyek pembangunan jalan sebesar $ 6,5 juta di Kalimantan, membeli sebuah Plaza Subang di jantung
kota Subang seharga Rp 20 miliar. Tanaman kayu jati dengan luas lahan 30 hektar. Selain itu sedang menggarap tempat pemotongan ayam dan menjadi distributor minyak oli sebuah perusahaan asal Malaysia serta menggarap tanaman tumpang sari bersama petani di
Kalimantan dengan jumlah lahan 1000 hektar. Hanya dalam waktu
lima tahun, omzetnya mencapai ratusan miliar. Atas sepak terjangnya inilah, pada 30 November 2006, dia dinobatkan sebagai Young Entrepreneur of The Year 2006 oleh lembaga keuangan internasional terkemuka, Ernst & Young atas promosi dari Bin Subiantoro Direktur Komersial Bank BNI.Teladan dari Nabi Musa Tahun 2003, saat usahanya mulai menuai keuntungan, Asep sudah memiliki empat mobil yaitu Toyota Altis, Suzuki Escudo, Toyota Kijang, dan Har Top yang digunakan untuk mobilitas bisnis. Untuk menambah modal, tiga mobilnya dijual ke salah seorang teman dekat yang memiliki 16 mobil. Yang disisakan cuma Escudo. Seiring dengan berjalannya waktu dan kemajuan bisnis, keadaan berbalik. 16 mobil yang dimiliki temannya, berpindah kepemilikan ke tangan Asep. Malah, pemuda asli Subang ini sempat memiliki 170 mobil dari berbagai jenis. Sejak itu, ia tak pernah mentargetkan harus punya kendaraan tertentu. “Nggak pernah terpikir harus beli Jaguar atau Mercy. Kalau saya sedang butuh Ferari saya beli Ferari. Butuh mobil dua kabin, saya pasti beli. Hidup harus bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan,” paparnya.Di tahun 2004, Asep mengajak keluarga Pesantren Gontor berangkat umroh. Dalam rombongan kebetulan ada salah seorang yang menguasai ilmu psikologi berdasarkan Juz (bagian) al-Qur’an . Menurut orang tersebut, dari 30 juz yang ada dalam Al-Qur’an Asep masuk dalam kategori juz 16. Ternyata setelah membuka-buka Al-Qur’an, di dalam juz itu terdapat
surat Thaha. Di dalamnya terdapat cerita tentang Nabi Musa. Musa adalah sosok Nabi yang membutuhkan partner untuk mewujudkan impian dan cita-citanya yaitu Nabi Harun. Tanpa sosok Harun, Musa tak bisa berbuat banyak. Harun lah yang punya banyak peran untuk menerjemahkan ide-idenya. “Ternyata benar, saya memang setipe dengan Musa,” akunya.Asep memang boleh dibilang jago dalam segala hal yang berkaitan dengan urusan bisnis peternakan. Tapi untuk urusan konstruksi, agrobisnis, pengadaan jasa, kontraktor, dan management, ia butuh pendamping yaitu orang yang benar-benar menguasai hal itu. “Jujur, saya hanya lulusan pesantren. Makanya saya rangkul orang-orang yang ahli di bidangnya,” katanya. Yang dimaksud adalah orang-orang yang jujur dan dapat dipercaya.

 

Meski kini segala hal sudah ada dalam genggamannya. Tapi Asep tak mau membusungkan dada. Ia bercita-cita bisa meraih tiga kesuksesan. Sukses berbisnis, berkeluarga, dan bermasyarakat. Ketiganya tak bisa dipisahkan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: